“PENGENDALIAN
PENYAKIT BULAI PADA TANAMAN JAGUNG”
Oleh
: Wa Ode Sanghyaningsinta W.
105040200111140/ Kelas D
LATAR BELAKANG
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah
satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain padi dan gandum. Sebagai
sumber karbohidrat utama, di Amerika Tengah dan selatan, jagung juga menjadi
alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di
Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung
sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari
biji), dibuat tepung (dari biji yang dikenaln dengan istilah tepung jagung
maizena), dan bahan baku industri(dari tepung biji dan tepung tongkolnya).
Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan
furfual. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanaman sebagai
penghasil bahan farmasi.
Saat ini petani jagung banyak
mengeluh karena adanya serangan penyakit bulai. Bulai merupakan penyakit paling
berbahaya dan sangat ditakuti petani karena ini terus mengancam pertanaman
jagung. Petani jagung akan panik bila pertanamannya diserang penyakit bulai
atau downy mildew, karena dapat
menyebabkan gagal panen dan mengakibatkan petani rugi besar. Lebih parah lagi,
bulai bisa menyerang pertanaman pada musim berikutnya melalui spora cendawan
yang bisa berkembang di tanah. Penyakit bulai ini disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis atau P. philippinensis.
Penyakit bulai pada jagung merupakan
penyakit utama yang paling berbahaya karena sebarannya yang sangat luas
meliputi beberapa negara penghasil jagung di dunia seperti Filipina, Thailand,
India, Indonesia, Afrika, dan Amerika dan hampir di semua propinsi di Indonesia
dan kehilangan hasil yang ditimbulkannya dapat mencapai 100% pada varietas
jagung yang rentanHal ini seperti yang di alami petani di kabupaten Tegal, Jawa
Tengah, dimana lebih dari 220 hektar lahan jagung mereka terserang bulai,
sehingga kerugian yang diderita petani akibat penyakit ini mencapai 500 juta
lebihBulai merupakan penyakit yang bersifat parasit obligat, dimana cendawan
ini hanya mampu tumbuh dan berkembang pada jaringan hidup dan hanya pada
tanaman inang (jagung).
REKOMENDASI
Penyebab Mewabahnya Penyakit Bulai :
Penyebab Mewabahnya Penyakit Bulai :
·
Penanaman varietas jagung rentan bulai
·
Penanaman jagung berkesinambungan
·
Efektivitas fungisida rendah akibat dosis dikurangi
atau dipalsukan
·
Cara aplikasi fungisida tak sesuai
·
Tidak adanya tindakan eradikasi
·
Adanya resistensi bulai thd metalaksil
·
Peningkatan virulensi bulai thd tan. Jagung
Penyakit bulai pada jagung dapat disebabkan oleh 10
spesies dari tiga generasi yaitu:
1. Peronosclerospora maydis (Java downy mildew)
2. P. philippinensis (Philippine downy mildew)
3. P. sorghi (Sorghum downy mildew)4. P. sacchari (Sugarcane downy mildew)
5. P. spontanea (Spontanea downy mildew)
6. P. miscanthi (Miscanthi downy mildew).
7. P. heteropogoni (Rajasthan downy mildew)
8. Sclerophthora macrospora (Crazy top)9. S. rayssiae var. zeae (Brown stripe)
10. Sclerospora graminicola (Graminicola downy mildew)
Penyakit bulai di Inonesia di sebabkan oleh 3 spesies cendawan dari genus Peronosclerospora yaitu P. maydis, P. philippinensis, P. sorghi.
1. Peronosclerospora maydis (Java downy mildew)
2. P. philippinensis (Philippine downy mildew)
3. P. sorghi (Sorghum downy mildew)4. P. sacchari (Sugarcane downy mildew)
5. P. spontanea (Spontanea downy mildew)
6. P. miscanthi (Miscanthi downy mildew).
7. P. heteropogoni (Rajasthan downy mildew)
8. Sclerophthora macrospora (Crazy top)9. S. rayssiae var. zeae (Brown stripe)
10. Sclerospora graminicola (Graminicola downy mildew)
Penyakit bulai di Inonesia di sebabkan oleh 3 spesies cendawan dari genus Peronosclerospora yaitu P. maydis, P. philippinensis, P. sorghi.
Gejala serangan penyakit bulai pada
jagung sangat mudah dikenali, yaitu daun berwarna khlorotik (putih seperti
tepung) pada bagian atas dan bawah memanjang sejajar tulang daun dengan batas
yang jelas. Bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Tanaman menjadi
terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak
bertongkol sama sekali. Gejala sistemik terjadi bila
infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun terinfeksi. Gejala
lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan
terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun
sobek-sobek. Tanaman jagung mengalami periode kritis antara umur 1 minggu
hingga 5 minggu, apabila selama periode kritis tersebut tanaman tidak
menimbulkan gejala serangan maka tanaman jagung akan tumbuh normal dan bisa
menghasilkan tongkol.
PENGENDALIAN
Oleh karena itu dalam pengembangan jagung di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit bulai perlu mendapat perhatian serius dengan berpegang pada 5 komponen pengendalian yaitu :
Oleh karena itu dalam pengembangan jagung di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit bulai perlu mendapat perhatian serius dengan berpegang pada 5 komponen pengendalian yaitu :
1)
Periode bebas tanaman jagung,
2).
Tanam serempak,
3).
Eradikasi tanaman terserang bulai,
4).
Varietas tahan bulai,
5). Fungisida berbahan
aktif metalaksil (Bisa menggunakan Demorf berbahan aktif Dimethomorp).
Komponen pengendalian penyakit bulai
yang umum dilakukan selama ini adalah perlakuan benih dengan fungisida saromil
atau ridomil yang berbahan aktif metalaksil, karena praktis dan mudah
dilakukan, bahkan petani tidak perlu melakukan tindakan apapun, hanya menanam
benih jagung yang sudah diberi perlakuan fungisida. Selain pengendalian dengan
fungisida, varietas tahan bulai sebenarnya sudah lama diteliti, namun tidak
banyak yang memanfaatkannya karena adanya fungisida barbahan aktif metalaksil
yang selama ini efektif mengendalikan penyakit bulai melalui perlakukan biji.
Pengendalian
dengan Teknologi Acrobat + Regent Red
Cara
efektif untuk mencegah terjadinya serangan penyakit bulai adalah penggunaan
varietas tahan, pemusnahan tanaman terinfeksi, tanam serempak, pergiliran
tanaman, serta pencegahan dengan fungisida yang tepat,” jelas Murdiyanto,
Manager Fungicide Products Crop Protection PT BASF Indonesia. BASF melalui penelitian yang akurat, telah
menemukan solusi tepat pencegahan penyakit bulai dengan fungisida Acrobat. Hal
tersebut sudah dibuktikan sendiri oleh banyak petani di sentra produksi jagung.
Dewasa ini BASF meluncurkan paket kombinasi handal untuk atasi bulai dan
sehatkan tanaman jagung yakni, Acrobat + Regent Red.
Teknologi
perlakuan benih Acrobat + Regent Red menjadi solusi yang tepat bagi petani
untuk mengatasi problem penyakit bulai dan menjadikan tanaman lebih sehat,
asalkan komposisi dan cara pencampurannya sesuai dengan yang dianjurkan BASF,”
tutur Murdiyanto. Hal tersebut diamini Samsul, petani jagung di Desa Butuh,
Kec. Keras, Kediri. Alasannya, hasil coba-coba petani dengan produk fungisida
lain tidak sebaik kombinasi Acrobat + Regent Red dalam mengatasi bulai. Banyak
keuntungan yang didapat petani dalam menggunakan Acrobat + Regent Red, yakni
pengendalian penyakit bulai lebih efektif sehingga tanaman aman dari bulai dan
panen bisa maksimal. Disamping itu dengan adanya Regent Red juga bisa
memperbaiki pertumbuhan tanaman, perakaran lebih banyak, daunnya lebih lebat,
lebih hijau, dan batangnya lebih kokoh.
Manfaat lain dapat mengatasi hama lalat bibit, orong-orong, dan semut
merah.
Komposisi
Harus Tepat dalam Pemanfaatan Acrobat +Regent Red
Pemanfaatan
Acrobat + Regent Red sebagai perlakuan benih harus tepat dan dipastikan merata
ke setiap benih jagung yang akan ditanam. Cara mencampurnya, siapkan lebih dulu
gelas plastik yang diisi dengan air 10 ml, kemudian larutkan Acrobat 5 g,
setelah merata masukkan Regent Red sebanyak 10 ml, aduk lagi hingga tercampur
merata. Kemudian masukkan campuran tadi ke dalam kantong plastik pencampur
benih yang telah terisi satu kilogram benih, kemudian dikocok sampai merata
benar dan tidak ada sisa campuran yang melekat di plastik.
Untuk
mendapatkan hasil maksimal, budidaya tanam yang baik juga harus dilakukan.
Mulai dari pengolahan lahan yang baik, tanah dibajak sekali, lalu diratakan dan
digaru, selanjutnya tanam benih yang telah diberi perlakuan Acrobat + Regent
Red. Buat lubang tanam menggunakan tugal, dengan jarak tanam 20 cm x 70 cm.
Selanjutnya pemupukan dilakukan pada umur 15 dan 40 hari setelah tanam, yaitu
pupuk majemuk NPK 15 : 15 : 15 sebanyak 75 kg, SP-36 sebanyak 75 kg, dan ZA 350
kg untuk satu musim tanam. Dengan cara tersebut petani akan memperoleh panen
sekitar 8 ton pipilan kering per hektar.
KONKLUSI
Pengelolaan tanaman secara terpadu
merupakan salah satu cara meningkatkan produktivitas dan daya saing hasil.
Terpadu di sini terkait erat dengan istilah manajemen. Penerapannya sebaiknya
pada kelompok tani sehamparan dalam satu jaringan irigasi, yang mana untuk
keberhasilannya diperlukan penguatan kelembagaan kelompok tani. Dengan adanya
suatu kelompok maka segala sesuatu bisa dimusyawarahkan bersama dengan mencapai
kata mufakat.
Manajemen yang sarat dengan
peraturan-peraturan sangat tepat diterapkan dalam kelompok tani. Di samping
mampu meningkatkan sumberdaya manusia juga sebagai alat untuk menanggulangi
segala permasalahan yang muncul supaya mampu ditarik solusi bersama yang
membawa manfaat
Penyakit bulai pada tanaman jagung
merupakan masalah klasik yang seakan tidak pernah ada solusinya. Terdapat
beberapa solusi, namun perlu pemahaman yang baik dalam menanggulanginya karena
adanya pengaruh yang kuat dari aspek social ekonomi masyarakat tani. Tindakan
preventif maupun kuratif adalah salah satu solusi dalam menanggulangi penyakit
bulai pada tanaman jagung, yang termasuk dalam wadah praktis manajemen
pertanian dalam organisasi kelompok tani. Manakala hal tersebut dicanangkan
secara kompak dan sungguh-sungguh maka diharapkan produksi maupun produktivitas
tanaman jagung bisa dicapai dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonymous 2012. Pengendalian Penyakit Bulai tanaman Jagung. Diunduh dari http://bpppucanglaban.blogspot.com/2011/12/bulai-tanaman-jagung.html.diakses
tanggal 22 Oktober 2012
Anonymous,2012.
Penyakit Bulai Tanaman Jagung. Diunduh dari http://www.agrina-online.com/redesign2.php?rid=10&aid=2636. Diakses
tanggal 22 Oktober 2012
Anonymous,
2012. Penanganan tepat Penyakit Bulai Tanaman jagung. Diunduh dari http://kalbar.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=219:jagung&catid=56:rekomendasi-2011&Itemid=161. Diakses
tanggal 22 Oktober 2012
Anonymous
2012. Solusi dalam Menangani Bulai pada Tanaman jagung. Diunduh dari http://azisrifianto.blogspot.com/2010/08/penyakit-bulai-downey-mildew-pada.html. Diakses
tanggal 22 Oktober 2012